Desain Penilaian Performance dalam Pembelajaran Matematika
Perspektif penilaian dalam konteks pendidikan dapat dibedakan menjadi dua
bentuk, yakni budaya pengujian dan budaya penilaian (Wolf, Bixby, Glenn, &
Gardner, 1991; Kleinsasser, 1995; Delandshere & Jones, 1999; Dochy
&Segers, 2001; Alonso-Tapia, 2002; Baartman, 2008). Budaya pengujian
berkembang dengan tujuan yang mendasar yakni untuk mengidentifikasi sejumlah
pengetahuan yang "disimpan" dalam pikiran siswa.
Di sisi lain, budaya penilaian memiliki tujuan mendasar yakni menyediakan
informasi atau umpan balik baik kepada siswa maupun guru untuk memandu cara
belajar dan mengajar untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pendidikan di
Indonesia, budaya pengujian lebih dominan dalam proses pembelajaran. Hal ini
dapat terlihat dari teknik evaluasi yangdilakukan oleh guru, sekolah, maupun
pemerintah yang lebih berorientasi pada pengetahuan hafalan dan penguasaan
kemampuan tingkat rendah. Dalam budaya pengujian, pembelajaran dipersepsikan
sebagai proses akuisisi fakta, aturan, dan keterampilan (Delandshere &
Jones, 1999) sehingga penilaian lebih cenderung dilihat sebagai cara untuk
memberikan sanksi dan verifikasi melalui tes beresiko tinggi (high-stake
testing).
Dengan kata lain, pilihan umpan balik yang dilakukan guru sebagai
pertanggungjawabannya lebih kepada pemberian skor atau ranking yang diberikan
setelah pengujian selesai. Hal ini memberikan tekanan dan membangun keyakinan
guru untuk mengambil pilihan mengajar yang bersifat superfisial dan fokus pada
apa yang akan diujikan daripada membangun pengetahuan siswa secara konstruktif.
Penilaian yang hanya dipandang sebagai cara memberitahukan kepada siswa
dengan pemberian nilai atau skor pada akhir satuan pembelajaran mengakibatkan
subjektivitas yang bias dan tidak menguntungkan pada peningkatan kualitas
pembelajaran, di antaranya (1) mendorong pembelajaran secara hafalan dan
superfisial; (2) tujuan utama penilaian lebih dipandang sebagai kompetisi,
membandingkan antara siswa satu dengan yang lain ketimbang perbaikan personal;
(3) tidak memperhatikan kesulitan belajar yang mungkin dialami siswa; (4)
memisahkan penilaian dalam proses pembelajaran, (5) menjadi pendorong pada
kecemasan berlebih, dan (6) berpengaruh pada rendahnya self-esteem dan self-beliefs
sebagai pebelajar (Black & William, 2006; Budiyono, 2010). Belajar
merupakan proses interaktif di mana siswa mencoba untuk memahami informasi baru
dan mengintegrasikannya ke dalam apa yang mereka sudah ketahui (Earl, 2003;
Western and Northern Canadian Protocol for Collaboration in Education [WNCP],
2006).
Peran penilaian dalam pembelajaran diperlukan untuk mengukur apa yang
siswa ketahui dan perlukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan yang
berfungsi sebagai bukti belajar. Di samping itu, penilaian digunakan untuk
menginformasikan kepada guru untuk merefleksikan pengajarannya dan membuat
perbaikan menuju tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian, penilaian tidak
hanya bertujuan untuk pemberian skor atau ranking, tetapi juga upaya untuk menyediakan
umpan balik kepada siswa maupun guru untuk melakukan perbaikan belajar mengajar
sesegera mungkin untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini mengandung makna bahwa
penilaian selalu menjadi bagian terintegrasi dalam proses pembelajaran serta
menjadi bagian krusial untuk membantu siswa dan guru dalam meningkatkan
efektivitas belajar-mengajar. Beberapa penelitian mengungkapkan hasil positif
terkait peran penilaian sebagai pendamping alami dalam pembelajaran matematika
(misalnya, Chueachot, Srisa-ard, & Srihamongkol, 2013; Balan, 2012).
Lebih dari itu, Black dan William (1998) melalui studi analisis terhadap
250 penelitian tentang classroom formative assessment yang diterbitkan antara
1987 dan 1998 menemukan bahwa beberapa studi menunjukkan bukti kuat bahwa penilaian
dapat membantu siswa untuk meningkatkan standar dan prestasi mereka. Dengan
kata lain, fokus penilaian yang terintegrasi dalam pembelajaran lebih kepada
bagaimana menghasilkan peningkatan substansial dalam hasil belajar siswa
daripada hanya digunakan untuk mengukur dan melihat hasil belajar. Meskipun
demikian, beberapa penelitian di atas belum mengungkapkan secara rinci
bagaimana strategi penilaian yang digunakan. Hal ini mendorong penelitian ini
untuk mengembangkan desain pembelajaran yang mencakup strategi-strategi
penilaian untuk mendukung pembelajaran matematika.
Pertanyaan:
Apakah penilaian
(melalui pengujian) yang dilakukan dalam pembelajaran matematika telah merefleksikan hasil pembelajaran secara keseluruhan?