Kamis, 12 April 2018

Desain Penilaian Performance dalam Pembelajaran Matematika


Desain Penilaian Performance dalam Pembelajaran Matematika

Perspektif penilaian dalam konteks pendidikan dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yakni budaya pengujian dan budaya penilaian (Wolf, Bixby, Glenn, & Gardner, 1991; Kleinsasser, 1995; Delandshere & Jones, 1999; Dochy &Segers, 2001; Alonso-Tapia, 2002; Baartman, 2008). Budaya pengujian berkembang dengan tujuan yang mendasar yakni untuk mengidentifikasi sejumlah pengetahuan yang "disimpan" dalam pikiran siswa.
Di sisi lain, budaya penilaian memiliki tujuan mendasar yakni menyediakan informasi atau umpan balik baik kepada siswa maupun guru untuk memandu cara belajar dan mengajar untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, budaya pengujian lebih dominan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari teknik evaluasi yangdilakukan oleh guru, sekolah, maupun pemerintah yang lebih berorientasi pada pengetahuan hafalan dan penguasaan kemampuan tingkat rendah. Dalam budaya pengujian, pembelajaran dipersepsikan sebagai proses akuisisi fakta, aturan, dan keterampilan (Delandshere & Jones, 1999) sehingga penilaian lebih cenderung dilihat sebagai cara untuk memberikan sanksi dan verifikasi melalui tes beresiko tinggi (high-stake testing).
Dengan kata lain, pilihan umpan balik yang dilakukan guru sebagai pertanggungjawabannya lebih kepada pemberian skor atau ranking yang diberikan setelah pengujian selesai. Hal ini memberikan tekanan dan membangun keyakinan guru untuk mengambil pilihan mengajar yang bersifat superfisial dan fokus pada apa yang akan diujikan daripada membangun pengetahuan siswa secara konstruktif.
Penilaian yang hanya dipandang sebagai cara memberitahukan kepada siswa dengan pemberian nilai atau skor pada akhir satuan pembelajaran mengakibatkan subjektivitas yang bias dan tidak menguntungkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, di antaranya (1) mendorong pembelajaran secara hafalan dan superfisial; (2) tujuan utama penilaian lebih dipandang sebagai kompetisi, membandingkan antara siswa satu dengan yang lain ketimbang perbaikan personal; (3) tidak memperhatikan kesulitan belajar yang mungkin dialami siswa; (4) memisahkan penilaian dalam proses pembelajaran, (5) menjadi pendorong pada kecemasan berlebih, dan (6) berpengaruh pada rendahnya self-esteem dan self-beliefs sebagai pebelajar (Black & William, 2006; Budiyono, 2010). Belajar merupakan proses interaktif di mana siswa mencoba untuk memahami informasi baru dan mengintegrasikannya ke dalam apa yang mereka sudah ketahui (Earl, 2003; Western and Northern Canadian Protocol for Collaboration in Education [WNCP], 2006).
Peran penilaian dalam pembelajaran diperlukan untuk mengukur apa yang siswa ketahui dan perlukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan yang berfungsi sebagai bukti belajar. Di samping itu, penilaian digunakan untuk menginformasikan kepada guru untuk merefleksikan pengajarannya dan membuat perbaikan menuju tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertujuan untuk pemberian skor atau ranking, tetapi juga upaya untuk menyediakan umpan balik kepada siswa maupun guru untuk melakukan perbaikan belajar mengajar sesegera mungkin untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini mengandung makna bahwa penilaian selalu menjadi bagian terintegrasi dalam proses pembelajaran serta menjadi bagian krusial untuk membantu siswa dan guru dalam meningkatkan efektivitas belajar-mengajar. Beberapa penelitian mengungkapkan hasil positif terkait peran penilaian sebagai pendamping alami dalam pembelajaran matematika (misalnya, Chueachot, Srisa-ard, & Srihamongkol, 2013; Balan, 2012).
Lebih dari itu, Black dan William (1998) melalui studi analisis terhadap 250 penelitian tentang classroom formative assessment yang diterbitkan antara 1987 dan 1998 menemukan bahwa beberapa studi menunjukkan bukti kuat bahwa penilaian dapat membantu siswa untuk meningkatkan standar dan prestasi mereka. Dengan kata lain, fokus penilaian yang terintegrasi dalam pembelajaran lebih kepada bagaimana menghasilkan peningkatan substansial dalam hasil belajar siswa daripada hanya digunakan untuk mengukur dan melihat hasil belajar. Meskipun demikian, beberapa penelitian di atas belum mengungkapkan secara rinci bagaimana strategi penilaian yang digunakan. Hal ini mendorong penelitian ini untuk mengembangkan desain pembelajaran yang mencakup strategi-strategi penilaian untuk mendukung pembelajaran matematika.

Pertanyaan:
Apakah penilaian (melalui pengujian) yang dilakukan dalam pembelajaran matematika telah merefleksikan hasil pembelajaran secara keseluruhan?