Penilaian
Afektif
A. Pengertian
dan Konsep
Aderson (1981)
berpendapat bahwa karakteristk manusia meliputi cara yang tipikal dari
berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal perasaan berkaitan dengan ranah
afektif.
Penilaian afektif dilakukan oleh pendidik melalui
pengamatan terhadap perkembangan afeksi peserta didik.
5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat,
konsep diri, nilai, dan moral
B.
Komponen
Penilaian Afektif pada SKL
1.
memiliki
keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama
masing-masing yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,
2.
menunjukkan
sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan
pekerjaannya,
3.
menunjukkan
sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang
pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan,
4.
menganalisis
sikap positif terhadap penegakan hukum, peradilan nasional, dan tindakan anti
korupsi
5.
mengevaluasi
sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945, sikap cermat dan menghargai hak atas kekayaan intelektual,
6. menunjukkan
sikap toleran dan empati terhadap keberagaman budaya yang ada di masyarakat
setempat dalam kaitannya dengan budaya nasional,
7. menunjukkan sikap peduli terhadap bahasa
dan dialek,
8.
menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil
yang terbaik dalam bidang iptek
C. Pengukuran Ranah Afektif
1.
metode
observasi dan metode laporan diri.
Penggunaan
metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat
dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan atau reaksi psikologi.
2.
Metode
laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah
dirinya sendiri
D.
Instrumen
Penilaian Afektif
Mencakup sebelas langkah yaitu:
1. menentukan spesifikasi instrumen,
2. menulis instrumen,
3. menentukan skala instrumen,
4. menentukan pedoman penskoran,
5. menelaah instrumen,
6. merakit instrumen,
7. melakukan ujicoba,
8. menganalisis hasil ujicoba,
9. memperbaiki instrumen,
10. melaksanakan pengukuran,
11. menafsirkan hasil pengukuran
Apakah seorang guru perlu membuat catatan perkembangan ranah afektif
siswa?
Tentu saja perlu, perkembangan afektif siswa itu sangat berpengaruh pada penilaian kita dalam mengajar, karena kita tidak hanya mentransefer ilmu kepada peserta didik tetapi juga mendidik mereka dari yang baik menjadi yang lebih baik
BalasHapusseorang guru sangat perlu membuat catatan perkembangan ranah afektif siswa dengan adanya catatan tersebut seorang dengan mudah untuk menilai peserta didik
BalasHapusmenurut saya sangat perlu guru membuat catatan afektif siswa. dengan dmikian guru akan mengetahui bagaimana sikap siswa dalam tiap pembelajaran, jika ada sesuatu hal yang erbeda dari biasanya kita akan mmberikan tindakan yang lbih baik buat siswa
BalasHapusPerlu, agar menjadi evaluasi bagi guru sebagai evaluasi diri supaya merubah gaya mengajar
BalasHapus