Jumat, 30 Maret 2018

Penilaian Afektif


Penilaian Afektif
A.    Pengertian dan Konsep
Aderson (1981) berpendapat bahwa karakteristk manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif.
Penilaian afektif dilakukan oleh pendidik melalui pengamatan terhadap perkembangan afeksi peserta didik.
5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral

B.     Komponen Penilaian Afektif pada SKL
1.        memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama masing-masing yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,
2.        menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya,
3.        menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan,
4.        menganalisis sikap positif terhadap penegakan hukum, peradilan nasional, dan tindakan anti korupsi
5.        mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945, sikap cermat dan menghargai hak atas kekayaan intelektual,
6.    menunjukkan sikap toleran dan empati terhadap keberagaman budaya yang ada di masyarakat setempat dalam kaitannya dengan budaya nasional,
7.     menunjukkan sikap peduli terhadap bahasa dan dialek,
8.    menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek

C.     Pengukuran Ranah Afektif
1.        metode observasi dan metode laporan diri.
       Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan atau reaksi psikologi.
2.        Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri

D.    Instrumen Penilaian Afektif
Mencakup sebelas langkah yaitu:
1. menentukan spesifikasi instrumen,
2. menulis instrumen,
3. menentukan skala instrumen,
4. menentukan pedoman penskoran,
5. menelaah instrumen,
6. merakit instrumen,
7. melakukan ujicoba,
8. menganalisis hasil ujicoba,
9. memperbaiki instrumen,
10. melaksanakan pengukuran,
11. menafsirkan hasil pengukuran

Apakah seorang guru perlu membuat catatan perkembangan ranah afektif siswa?


4 komentar:

  1. Tentu saja perlu, perkembangan afektif siswa itu sangat berpengaruh pada penilaian kita dalam mengajar, karena kita tidak hanya mentransefer ilmu kepada peserta didik tetapi juga mendidik mereka dari yang baik menjadi yang lebih baik

    BalasHapus
  2. seorang guru sangat perlu membuat catatan perkembangan ranah afektif siswa dengan adanya catatan tersebut seorang dengan mudah untuk menilai peserta didik

    BalasHapus
  3. menurut saya sangat perlu guru membuat catatan afektif siswa. dengan dmikian guru akan mengetahui bagaimana sikap siswa dalam tiap pembelajaran, jika ada sesuatu hal yang erbeda dari biasanya kita akan mmberikan tindakan yang lbih baik buat siswa

    BalasHapus
  4. Perlu, agar menjadi evaluasi bagi guru sebagai evaluasi diri supaya merubah gaya mengajar

    BalasHapus