PROSES KOGNITIF MATEMATIKA
Belajar merupakan aktivitas yang terkait dengan proses kognitif. Proses
kognitif adalah proses mental individu yang dapat dipahami sebagai pemrosesan
informasi (Jones, 2006). Pemrosesan informasi melibatkan penerimaan informasi
dan mengorganisasikannya dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya, menyimpan
informasi, dan memanggil kembali informasi tersebut ketika dibutuhkan (Slavin,
2009). Atkinson dan Shiffrin mengajukan teori pemrosesan informasi dalam memori
manusia yang menyatakan bahwa informasi diproses dan disimpan dalam tiga tahap,
yaitu register pengindraan (sensory memory), memori jangka pendek (short-term
memory), dan memori jangka panjang (long-term memory) (Sternberg, 2006; Huitt,
2003; Woolfolk, 2008; Nur dkk., 2008).
Tahap pertama pemrosesan dan penyimpanan informasi adalah sensory memory.
Informasi yang baru saja diterima dan disimpan dalam sensory memory, tidak
semua bisa diolah karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang
masuk. Pemrosesan informasi di tahap pertama ini sangat penting karena menjadi
syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga
perhatian pebelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat
diperlukan (Suharnan, 2005).
Tahap kedua pemrosesan dan penyimpanan informasi adalah short-term memory (STM) atau working memory". Short-term memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada saat menerima stimulus dari lingkungan. Informasi yang masuk ke short-term memory berangsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut masuk ke penyimpanan informasi berikutnya, yaitu long-term memory (Huitt, 2003).
Tahap ketiga adalah long-term memory (LTM) merupakan memori penyimpanan
yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi
tersebut tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan di dalam long-term
memory diorganisasikan ke dalam bentuk struktur pengetahuan tertentu, atau yang
disebut dengan schema. Schemamengelompokkan elemen-elemen informasi sesuai
dengan bagaimana nantinya informasi tersebut akan digunakan, sehingga schema
memfasilitasi akses informasi di waktu mendatang ketika akan digunakan. Dengan
demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam
bentuk schema di dalam long-term memory, bukan dari kemampuannya untuk
melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang belum terorganisasilan di
dalam long-term memory (Merrienboer & Sweller, 2005). Sejalan dengan itu,
Mar‟at (2007) mengatakan bahwa dalam memori jangka panjang, informasi dapat
disimpan secara lebih permanen. Akan tetapi dalam penyimpanan ini diperlukan
berbagai strategi kognitif, seperti mengatakan informasi secara berulang-ulang
atau mengorganisasikannya ke dalam kelompok-kelompok yang dikenal.
Prestasi memori individu dapat ditingkatkan dengan menggunakan strategi
kognitif. Jonassen (1997) mengelompokkan strategi kognitif menjadi empat.
Keempat jenis strategi kognitif itu adalah recall, integrasi, organisasi, dan
elaborasi. Strategi-strategi recall konsentrasinya pada praktik pengulangan.
Strategi integrasi dan organisasi disebut juga strategi recall and
transformation, merupakan strategi pemrosesan yang memfasilitasi transformasi
informasi ke dalam bentuk yang lebih mudah diingat. Strategi organisasi
membantu dalam menstrukturisasi dan merestrukturisasi dasar pengetahuan
seseorang, yaitu melihat bagaimana suatu ide dihubungkan dengan ide-ide
lainnya. Dalam strategi elaborasi, informasi dielaborasi dengan menambahkan
rincian informasi untuk membuat materi lebih menghasilkan citra-citra fisik dan
mental.
Selain strategi utama yang beroperasi langsung pada informasi, individu
juga selayaknya menggunakan strategi pendukung (Jonassen, 1997). Strategistrategi
pendukung dimaksudkan untuk mendukung pemrosesan informasi dengan membantu
individu untuk memelihara orientasi belajar yang baik. Strategi pendukung ini
meliputi strategi-strategi sistem belajar, seperti penetapan tujuan, manajemen
waktu, manajemen konsentrasi, serta strategi-strategi metalearning.
Metalearning merupakan strategi pendukung yang paling penting yang
berdasar pada prinsip-prinsip metamemori. Metameori adalah pengetahuan tentang
memori. Seperti disebut dalam karya Jonassen (Jonassen, 1997), metalearning
adalah mekanisme kontrol eksekutif tingkat tinggi yang memungkinkan individu
merespon situasi belajar yang berbeda dengan cara merefleksi dan
mengimplementasikan strategistrategi. Kemampuan metalearning ini sangat penting
bagi seseorang untuk memantau sejauh mana perkembangan belajarnya. Ditemukan
bahwa individu yang lebih pandai akan lebih cakap juga dalam menyeleksi dan
menggunakan strategi yang sesuai untuk memonitor proses penyimpanan dan
pengambilan informasi mereka. Individu yang baik tetap sadar untuk memonitor
pembelajaraannya secara lebih konsisten. Dalam hal ini diidentifikasi lima
kelompok strategi metalearning (atau bisa disebut sebagai strategi monitoring),
yaitu perencanaan, attending, encoding, reviewing dan evaluasi, yang gambarannya
adalah sebagai berikut. Strategi perencanaan meliputi seleksi (identifikasi
sasaran belajar), persiapan (mengaktifkan skemata yang relevan), pengukuran
(menentukan kesulitan atau kedalaman proses yang diperlukan), dan estimasi
(memprediksi kebutuhan proses informasi dari tugas). Strategi attending
meliputi pendekatan, pencarian (menghubungkan informasi yang disajikan dengan
ingatan), pengontrasan (membandingkan informasi yang disajikan dengan ingatan),
dan validasi (konfirmasi informasi yang disajikan dengan pengetahuan yang sudah
ada). Strategi encoding meliputi elaborasi (mencoba mengaitkan informasi baru
dengan pengetahuan yang telah ada) dan menghubungkan secara kualitatif
(mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada secara lebih
dalam). Strategi review meliputi konfirmasi (penggunaan informasi baru),
pengulangan (mempraktikkan recall), dan perbaikan (revise). Strategi evaluasi
mencakup pengujian (menentukan konsistensi materi baru), dan penilaian
(penilaian informasi).
Untuk menjadi individu yang kompeten, setiap orang harus memiliki
strategi kognitif yang baik. Diyakini bahwa kompetensi sering merupakan hasil
dari penggunaan strategi yang tepat, dan bukan di- karenakan kemampuan superior
pribadi atau kerja keras belaka (Woolfolk, 2008). Pengguna strategi yang baik
adalah seseorang yang mempunyai suatu varitas strategi dan menggunakan
prosedur-prosedur tersebut untuk mengatasi tantangan kognitifnya. Dia
membuktikan bahwa individu yang sukses memiliki strategi kognitif yang lebih
baik daripada individu yang kurang sukses. Individu yang memiliki strategi
kognitif yang baik adalah individu yang memiliki kesadaran metakognisi.
Artinya, yang bersangkutan tidak hanya memiliki strategi-strategi dalam
pemrosesan informasi, tetapi juga memiliki strategi-strategi metalearning
(Woolfolk, 2008).
Dalam penelitian ini, strategi kognitif dalam pemecahan masalah mencakup
(1) strategi kognitif yang meliputi recall, integrasi, organisasi (recall and
transformation), dan elaborasi dan (2) strategi metalearning yang meliputi
perencanaan, attending, encoding,review dan evaluasi. Penelitian ini
menggunakan tahap pemecahan masalah menurut Polya (1973), yakni memahami
masalah, merencanakan penyelesaian masalah, menyelesaikan masalah sesuai
rencana dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Dalam memecahkan masalah, siswa atau individu memiliki karakteristik yang
berbeda-beda. Psikologi dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat
banyak variabel yang mengindikasikan perbedaan individu tersebut serta
memengaruhi proses belajarnya, antara lain kecerdasan, keberbakatan, gaya
kognitif, gaya berpikir, gaya belajar, daya adopsi, dan kemampuan awal. Dalam
Altun dan Cakan (2006) disebutkan bahwa dengan mengidentifikasi gaya kognitif
siswa, para pendidik terbantu untuk memahami bagaimana seseorang
mengorganisasikan dan merepresentasikan informasi.
Gaya kognitif mengacu kepada karakteristik seseorang dan konsistensi
dalam menanggapi, mengingat, mengorganisasikan, memroses, berpikir dan
memecahkan masalah. Gaya kognitif dalam tulisan ini adalah gaya kognitif Field
Independent (FI) dan Field Dependent (FD). Dimensi gaya kognitif FI dan FD
telah banyak dikaji para peneliti dan terkait dengan proses pembelajaran. Individu
yang memiliki gaya kognitif FI, mampu menghadirkan kembali informasi dari
memori. Mereka cenderung menggunakan pendekatan pemecahan masalah dengan cara
yang lebih bersifat analitik. Selanjutnya individu yang memiliki gaya kognitif
FD sulit menghadirkan kembali informasi dari memori, menggunakan pendekatan
masalah yang lebih bersifat global, merasa gambar keseluruhan dalam konteks
yang diberikan, dan cenderung sulit memisahkan suatu item dari konteks yang
utuh (Altun & Cakan, 2006).
Selain gaya kognitif, perbedaan jenis kelamin (gender) juga dimungkinkan
memengaruhi proses kognitif seseorang dalam pemecahan masalah matematika. Hasil
penelitian Chung dan Monroe (2001), menyatakan bahwa pemrosesan informasi
laki-laki berbeda dengan perempuan. Jensen (2008) mengatakan bahwa ada
perbedaan-perbedaan fisik antara otak laki-laki dan perempuan. Perbedaan
struktural ini dapat menjadi faktor yang membedakan perilaku, perkembangan dan
pemrosesan kognitif antara laki-laki dan perempuan. Penelitian lain dilakukan
oleh Fairweather dan Hutt (Chung & Monroe, 2001). Dalam penelitian tersebut
dikatakan bahwa perempuan relatif lebih efisien dalam mengolah informasi ketika
beban contentnya lebih berat. Semakin kompleks suatu tugas dengan berbagai
kunci penyelesaian, laki-laki memerlukan waktu yang lama dibanding dengan
perempuan dalam menyelesaikan tugas yang bersangkutan. Perempuan juga memiliki
kemampuan mengingat lebih kuat terhadap informasi yang baru (Chung &
Monroe, 2001). Selain itu, Chung dan Monroe (2001) juga menemukan bahwa
mahasiswa laki-laki lebih selektif dalam memroses informasi, sedangkan mahasiwa
perempuan lebih bersifat menyeluruh atau komprehensif dalam memroses informasi.
Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa proses kognitif laki-laki berbeda
dengan perempuan.
Selanjutnya, subjek FI dan subjek FD mengecek kembali hasil yang
diperoleh mereka. Subjek FI memeriksa pekerjaannya selama proses dan sesudah
memeroleh hasil akhir, dan subjek FD memeriksa hasil pekerjaannya setelah
memeroleh hasil akhir. Subjek laki-laki memeriksa hasil pekerjaannya pada
langkah memahami masalah, merencanakan penyelesaian masalah dan menyelesaikan
masalah sesuai rencana. Subjek perempuan memeriksa cara penyelesaian pada
langkah merencanakan penyelesaian masalah dan menyelesaikan masalah sesuai
rencana, baris demi baris. Mereka memeriksa lebih detail dan secara menyeluruh.
Hal ini sejalan dengan pendapat Meyers–Levy yang mengatakan bahwa perempuan
dipandang sebagai pemroses informasi lebih detail, yang melakukan proses
informasi pada sebagian besar inti informasi untuk pembuatan keputusan (Chung
& Monroe, 2001).
Subjek FI mengecek kembali hasil yang diperoleh cenderung menggunakan
lebih dari satu metode. Subjek FI mengatakan bahwa hasil yang diperoleh dari
metode pertama sama dengan hasil yang diperoleh dari metode yang lain.
Sedangkan subjek FD mengatakan bahwa hasil yang diperoleh sebelum menghitung
ulang sama dengan hasil yang diperoleh setelah menghitung ulang. Subjek FI
menggunakan strategi kognitif yaitu strategi evaluasi yang mencakup pengujian,
menentukan konsistensi hasil yang diperoleh dari metode yang pertama dan dari
metode yang kedua; sedangkan subjek FD menggunakan strategi kognitif yaitu
strategi evaluasi yang mencakup pengujian, menentukan konsistensi hasil yang diperoleh
sebelum menghitung ulang dengan hasil yang diperoleh setelah menghitung ulang.
Subjek FI laki-laki dan subjek FD laki-laki menyimpan informasi dengan
melakukan pengulangan pada langkah memahami masalah, pada langkah merencanakan
penyelesaian masalah dan pada langkah menyelesaikan masalah sesuai rencana yang
sudah pernah dilalui; sedangkan subjek FI perempuan dan subjek FD perempuan
menyimpan informasi dengan melakukan pengulangan pada langkah merencanakan
penyelesaian masalah dan pada langkah menyelesaikan masalah sesuai rencana yang
sudah pernah dilalui. Nampaknya subjek perempuan lebih efisien dalam melakukan
pengulangan. Perempuan relatif lebih efisien dalam mengolah informasi ketika
beban contentnya lebih berat (Chung & Monroe, 2001). Subjek FI dan subjek
FD mengolah informasi dengan 24 Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 19, Nomor 1, Juni
2013, hlm. 17-25 cara mengintegrasikan dan membandingkan hasil yang diperoleh.
Menurut Mar‟at (2007), dalam memori jangka panjang, informasi dapat disimpan
secara lebih permanen, yang dilakukan dengan cara pengulangan atau
mengorganisasi informasi dalam kelompok-kelompok yang dikenal. Merrienboer dan
Sweller (2005) juga mengatakan bahwa keahlian seseorang berasal dari
pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory, bukan
dari kemampuannya untuk melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang
belum terorganisasi di dalam long-term memory.
Subjek FI memanggil kembali informasi dengan cara mengingat kembali hasil
yang diperoleh dari cara pertama dan cara kedua. Cara kedua berbeda dengan cara
pertama. Selanjutnya mengolah informasi dengan cara membandingkan hasil
tersebut. Subjek FD memanggil kembali informasi dengan cara mengingat kembali
hasil yang diperoleh sebelum menghitung ulang dan membandingkan hasil tersebut
dengan hasil yang diperoleh setelah menghitung ulang. Dalam memanggil kembali
informasi subjek FI dan FD menggunakan strategi recall yang konsentrasinya pada
praktik pengulangan pada langkah menyelesaikan masalah sesuai rencana yang sudah
pernah dilalui.
Selain temuan yang diuraikan di atas, diperoleh temuan lain sebagai
berikut. Subjek yang memiliki gaya kognitif FI menuliskan yang diketahui dan
yang ditanya, tanpa melihat lembar soal, karena subjek masih mengingat
informasi yang diterima melalui membaca sambil menggaris-bawahi kata-kata yang
dibaca; sedangkan subjek yang memiliki gaya kognitif FD menuliskan yang
diketahui dan yang ditanya, sering melihat lembar soal, karena sudah lupa pada
informasi yang diterima melalui membaca sambil menunjuk kata-kata yang dibaca.
Subjek yang memiliki gaya kognitif FI menuliskan yang diketahui dan yang
ditanya tanpa melihat lembar soal, karena subjek FI masih mengingat informasi
yang telah diperolehnya. Ini disebabkan karena subjek mengarahkan perhatian
terpusat pada informasi yang diterima dan mengabaikan stimulus lain yang
mengganggu. Hal ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa pelajar yang
memiliki gaya kognitif field independent cenderung mampu memanggil kembali
informasi dari memori (Altun & Cakan, 2006).
Perhatian terpusat yang dimaksudkan adalah perhatian yang tertuju kepada
lingkup objek yang sangat terbatas. Dengan demikian subjek yang memiliki gaya
kognitif FI mengadakan konsentrasi pikiran, yang berarti berpikir dengan
perhatian terpusat. Hal ini sesuai dengan pendapat Solso dkk. (2008) bahwa
perhatian adalah proses konsentrasi pikiran atau pemusatan aktivitas mental.
Proses perhatian melibatkan pemusatan pikiran pada tugas tertentu, sambil
berusaha mengabaikan stimulus lain yang mengganggu.
Selanjutnya menurut Witkin dkk. (1977), individu yang field independent
cenderung berpikir analitis. Salah satu ciri berpikir analitis adalah
menggarisbawahi bagian yang penting. Dengan demikian, subjek yang memiliki gaya
kognitif FI akan lebih mudah mengakses kembali informasi yang diperlukan.
Selanjutnya, subjek yang memiliki gaya kognitif FD menuliskan yang diketahui
dan yang ditanya sambil sering melihat lembar soal. Subjek melakukan hal ini
karena mereka belum atau tidak mengarahkan perhatian terpusat pada informasi
yang diterima, sehingga terjadi peristiwa lupa. Subjek FD dapat lupa karena
terjadi interferensi atau terhalang oleh informasi yang lain, atau tidak
mentransfer informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Informasi
lain yang menghalangi itu dapat berupa informasi baru atau informasi lama. Hal
ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa pelajar yang memiliki gaya
kognitif field dependent sulit memanggil kembali informasi dari memori (Altun
& Cakan, 2006).
SIMPULAN
Proses kognitif subjek dalam memecahkan masalah berbeda satu sama lain,
walaupun ada beberapa kesamaannya. Perbedaan tersebut terutama terlihat pada
strategi kognitif yang digunakan. Pada langkah memahami masalah, siswa FI
menggunakan strategi kognitif integrasi, organisasi (recall &
transformation) dan perencanaan (mengaktifkan skemata yang relevan), sehingga
dalam memahami masalah siswa FI lebih baik dibanding siswa FD; sedangkan siswa
FD hanya menggunakan strategi kognitif recall (konsentrasinya pada praktik
pengulangan). Pada langkah merencanakan penyelesaian masalah, siswa FI
menggunakan strategi kognitif perencanaan, attending dan encoding; sedangkan
siswa FD hanya menggunakan strategi kognitif recall. Pada langkah menyelesaikan
masalah sesuai rencana, siswa FI menggunakan strategi kognitif organisasi dan
mempunyai varitas strategi; sedangkan siswa FD hanya menggunakan strategi
kognitif recall dan tidak mempunyai varitas strategi. Pada langkah memeriksa
kembali hasil yang diperoleh, siswa FI perempuan memeriksa dengan melihat
konsistensi hasil dari dua metode dan memeriksa setiap baris, siswa FI
laki-laki memeriksa hanya dengan melihat konsistensi hasil dari dua metode,
siswa FD perempuan memeriksa dengan menghitung ulang dan memeriksa setiap baris
dan FD laki-laki memeriksa dengan menghitung ulang, sehingga siswa FI perempuan
lebih akurat dalam membuat keputusan.
Disarankan beberapa hal kepada guru matematika sebagai berikut. Dalam
pembelajaran, untuk siswa yang tergolong FI, guru dapat memberikan soal-soal
yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Untuk siswa yang tergolong FD, guru
perlu meminta siswa untuk mendiskusikan dulu apa yang mereka ketahui tentang
suatu topik sebelum mempelajarinya, membuat prediksi tentang materi yang akan
dipelajari, menyajikan diagram yang menunjukkan bagaimana unsur-unsur suatu
proses saling berhubungan satu dengan yang lain, dan melatihkan strategi
kognitif kepada siswa. Untuk siswa FI perempuan dapat diberikan soal-soal yang
lebih rumit atau lebih kompleks sehingga siswa tersebut dapat menjadi model
bagi temannya. Dalam pembelajaran, guru perlu memotivasi siswa laki-laki agar
menggunakan berbagai usaha dalam memeriksa hasil yang diperoleh, sehingga lebih
akurat dalam membuat keputusan.
Gaya kognitif dalam tulisan ini adalah gaya kognitif Field Independent (FI) dan Field Dependent (FD). Bagaimana cara
mengkolaborasikan proses pembelajaran dalam pelajaran matematika agar siswa
yang tergolong FI dan FD dapat belajar secara bersamaan?
salah satu karakteristik gaya kognitif FI adalah Kurang dipengaruhi oleh lingkungan berbanding terbalik dengan karakteristik gaya kognitif FD adalah Sangat dipengaruhi oleh lingkungan. solusi agar siswa dengan gaya kognitif FA dan FD adalah pertama, guru bisa melihat persentase gaya kognitif dalam kelasnay, kedua guru dapat memberikan pengertian kepada dua jenis gaya kognitif tersebut agar masing-masingnya dapat beradaptasi dan memaklumi keadaan dan berusaha tetap fokus dalam pembelajaran ini terkhusus siswa untuk gaya kognitif FD. selanjutnya guru dapat merencanakan pembelajaran dengan strategi dan metode-metode yang menarik dan lebih efektif agar smua siswa dengan latarbelakang gaya kognitif berbeda dapat belajar bersama-sama. terima kasih
BalasHapusgaya kognitif field independent dan field dependent yakni gaya kognitif yang memiliki perbedaan pada berpengaruhnya lingkungan dalam proses pembelajaran, nah untuk selanjutnya guru harus merencanakan kegiatan pembelajaran dengan strategi dan metode-metode yang menarik dan lebih efektif agar smua siswa dengan latarbelakang gaya kognitif berbeda dapat belajar bersama-sama. dan mendapatkan hasil yang maksimal
BalasHapusMenurut saya perbedaannya adalah pengaruh lingkungan dalam proses pembelajaran. FA tidak terllaunbesar dipengaruhi lingkungan sementara FD sangat dipengaruhi lingkungan. Untuk menganalisis tipe kognitif siswa tsb sebagai guru, harus melakukan pengenalan dengan cara pendekatan kepada siswa, selanjutnya menganalisis lalu memberikan solusi dengan cara menyiapkan metode pembelajaran yg menarik bagi semua tipe kognitif siswa
BalasHapusDalam pembelajaran, untuk siswa yang tergolong FI, guru dapat memberikan soal-soal yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Untuk siswa yang tergolong FD, guru perlu meminta siswa untuk mendiskusikan dulu apa yang mereka ketahui tentang suatu topik sebelum mempelajarinya, membuat prediksi tentang materi yang akan dipelajari, menyajikan diagram yang menunjukkan bagaimana unsur-unsur suatu proses saling berhubungan satu dengan yang lain, dan melatihkan strategi kognitif kepada siswa. Untuk siswa FI perempuan dapat diberikan soal-soal yang lebih rumit atau lebih kompleks sehingga siswa tersebut dapat menjadi model bagi temannya. Dalam pembelajaran, guru perlu memotivasi siswa laki-laki agar menggunakan berbagai usaha dalam memeriksa hasil yang diperoleh, sehingga lebih akurat dalam membuat keputusan.
BalasHapusGuru harus melakukan pendekatan kepada setiap siswa dan menggunakan pendekatan yang tepat kepada setiap siswa sesuai dengna kebutuhan setiap siswa
BalasHapusmenurut saya cara mengkolaborasikan proses pembelajaran dalam pelajaran matematika agar siswa yang tergolong FI dan FD dapat belajar secara bersamaan adalah dengan cara memilih strategi belajar yang tepat dan pendekatan yang tepat juga
BalasHapusBerdasarkan Dalam kesimpulan artikel yang kakak buat,
BalasHapus-untuk siswa yang tergolong FI, guru dapat memberikan soal-soal yang lebih tinggi tingkat kesulitannya.
-Untuk siswa yang tergolong FD, guru perlu meminta siswa untuk mendiskusikan dulu apa yang mereka ketahui tentang suatu topik sebelum mempelajarinya.
Untuk dapat tergolong pembelajaran FI dan FA maka di sesuaikan metodenya.
guru dapat memberikan soal-soal yang lebih tinggi tingkat kesulitannya.
BalasHapus-Untuk siswa yang tergolong FD, guru perlu meminta siswa untuk mendiskusikan dulu apa yang mereka ketahui tentang suatu topik sebelum mempelajarinya.
Untuk dapat tergolong pembelajaran FI dan FA maka di sesuaikan metodenya.
guru dapat memberikan soal-soal yang lebih tinggi tingkat kesulitannya.
BalasHapus-Untuk siswa yang tergolong FD, guru perlu meminta siswa untuk mendiskusikan dulu apa yang mereka ketahui tentang suatu topik sebelum mempelajarinya.
Untuk dapat tergolong pembelajaran FI dan FA maka di sesuaikan metodenya.
guru dapat memberikan soal-soal yang lebih tinggi tingkat kesulitannya.
BalasHapus-Untuk siswa yang tergolong FD, guru perlu meminta siswa untuk mendiskusikan dulu apa yang mereka ketahui tentang suatu topik sebelum mempelajarinya.
Untuk dapat tergolong pembelajaran FI dan FA maka di sesuaikan metodenya.
cara mengkolaborasikannya guru harus kreatif dalam pembelajaran, serta mengetahui kemampuan setiap siswa sehingga kolaborasi yang seimbang bisa diterapkan.
BalasHapusgaya kognitif FI adalah gaya kognitif yang Kurang dipengaruhi oleh lingkungan dan berbanding kebalik dengan kognitif FD adalah Sangat dipengaruhi oleh lingkungan. solusi agar siswa dengan gaya kognitif FI dan FD adalah pertama, guru bisa melihat persentase gaya kognitif dalam kelasnay, kedua guru dapat memberikan pengertian kepada dua jenis gaya kognitif tersebut agar masing-masingnya dapat beradaptasi dan memaklumi keadaan dan berusaha tetap fokus dalam pembelajaran ini terkhusus siswa untuk gaya kognitif FD. selanjutnya guru dapat merencanakan pembelajaran dengan strategi dan metode-metode yang menarik dan lebih efektif agar smua siswa dengan latarbelakang gaya kognitif berbeda dapat belajar bersama-sama.
BalasHapusmenurut saya, guru bisa merancang pembelajaran yang menarik dengan menggunakan media atau strategi belajar yang mampu membantu siswa
BalasHapus